Aceh | Meuligoenews.com : Senyumnya hangat, bahasanya runtut, dan matanya tajam ketika berbicara tentang komunikasi, masyarakat, dan budaya Melayu. Ia adalah Azizon Nurza, seorang praktisi Public Relations (PR) dan Corporate Social Responsibility (CSR) yang namanya dikenal lintas industri, dari pulp & paper, migas, hingga pertambangan.
Namun kisah Azizon bukan sekadar daftar jabatan atau deretan penghargaan. Ia adalah cerita tentang perjalanan panjang seorang anak Melayu yang menjadikan komunikasi sebagai jalan hidupnya.
Azizon lahir pada 13 Mei 1975 di tanah Riau, sebuah daerah yang sejak lama menjadi simpul peradaban Melayu. Sebagian sumber menyebut ia lahir di Siak Sriindrapura, sebagian lain menulis Bagan Siapi-api, Rokan Hilir. Apa pun tempatnya, masa kecilnya tetap ditautkan pada aliran Sungai Siak, tepatnya di Sungai Apit dan Sungai Bayam.
Ia tumbuh di keluarga pendidik. Ayahnya, Drs. Zenal Abidin, adalah seorang guru. Ibunya, Nursiah Sani, juga mengabdikan diri di dunia pendidikan. Dari merekalah Azizon belajar arti disiplin, kerja keras, dan nilai ilmu pengetahuan. Di lingkungan kampung yang kental dengan tradisi Melayu, ia akrab dengan pantun, petatah-petitih, serta adat yang membentuk cara pandangnya kelak.
“Orang Melayu diajarkan untuk halus dalam berbicara, tapi tegas dalam pendirian,” ujar Azizon suatu kali dalam sebuah forum mahasiswa. Prinsip itu kelak menjadi ruh dalam setiap langkah profesionalnya di bidang komunikasi.
Setelah menamatkan pendidikan S1 dan S2 di Universitas Negeri Riau, Azizon mulai menapaki jalur yang akan menjadi jalan panjangnya, Public Relations. Bagi banyak orang, PR hanyalah urusan rilis pers atau menyiapkan konferensi media. Tetapi bagi Azizon, PR adalah “jantung komunikasi”, penghubung vital antara perusahaan dengan masyarakat.
Ia pernah memegang peran sebagai Public Relations Head di PT Riau Andalan Pulp & Paper, lalu bergeser ke sektor migas sebagai PR & Security Superintendent di Kondur Petroleum SA. Pengalamannya berlanjut sebagai staf ahli di BUMD PT Bumi Siak Pusako, hingga kemudian dipercaya sebagai Government & Public Relations di BOB PT BSP Pertamina Hulu.
Perjalanan itu membuatnya fasih menghadapi beragam ekosistem, dari hutan dan sungai yang harus dijaga, sumur migas yang strategis, hingga dinamika regulasi pemerintah. Semua itu membentuk dirinya sebagai praktisi PR yang lentur, tetapi tetap berpijak pada integritas.
Ketika kemudian ia bermukim di Aceh, kariernya berlanjut di sektor tambang. Ia dipercaya sebagai CSR & Public Relations PT Mifa Bersaudara, salah satu perusahaan batu bara di pantai barat Aceh.
Di Aceh, peran Azizon semakin terlihat. Ia bukan hanya penghubung antara perusahaan dan masyarakat, tetapi juga menjadi wajah korporasi. Media lokal sering menuliskan pernyataannya terkait tanggung jawab sosial perusahaan maupun dinamika industri tambang. “Transparansi komunikasi itu penting,” ucapnya berulang kali dalam berbagai kesempatan.
Kerja kerasnya mendapat pengakuan. Pada 2017, ia sudah mengoleksi setidaknya enam penghargaan di bidang PR dan CSR. Tahun 2021, Jambore PR Indonesia (JAMPIRO) ke-7 di Bali menganugerahkan gelar “Pemimpin Public Relations Berpengaruh.”
Tak hanya di dalam negeri, Azizon juga melangkah ke panggung internasional. Pada 2022, ia meraih “Leaders CSR & ESG International Awards” di Hanoi, Vietnam. Bagi Azizon, penghargaan hanyalah bonus. “Yang utama adalah bagaimana masyarakat merasakan manfaat dari kehadiran perusahaan,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Selain bekerja di industri, Azizon aktif dalam jejaring profesional. Ia pernah menjadi Wakil Ketua PERHUMAS Aceh dan Wakil Ketua Working Group Sosial & CSR PERHAPI. Kedua posisi itu membuatnya terhubung dengan banyak praktisi komunikasi dan pertambangan di level nasional.
Tetapi di balik kesibukan korporasi, ia tak pernah melupakan identitas Melayu. Dalam berbagai forum, ia kerap mendorong generasi muda untuk bangga pada akar budaya. “Melayu bukan sekadar baju kurung atau syair. Ia adalah nilai hidup, sopan, santun, tapi tangguh menghadapi zaman,” katanya dalam sebuah tulisan opini.
Azizon juga sering hadir di ruang-ruang akademik. Universitas Teuku Umar (UTU) di Meulaboh, Aceh Barat, pernah mengundangnya untuk membekali mahasiswa mengenai praktik PR yang nyata. Ia tidak hanya bicara teori, tetapi membagi pengalaman lapangan, bagaimana mengelola krisis komunikasi, membangun citra perusahaan, hingga menyusun program CSR yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Mahasiswa harus tahu bahwa PR itu bukan sekadar protokol. Ia harus bisa menyelam ke hati masyarakat,” ujarnya kala itu, disambut tepuk tangan mahasiswa.
Tak banyak yang tahu, Azizon adalah penulis produktif. Sejak 2010, ia sudah menerbitkan lebih dari sepuluh buku. Tema tulisannya beragam, dari komunikasi, opini budaya, hingga refleksi sosial. Di dunia maya, ia aktif menulis di platform media warga.
Menulis, bagi Azizon, adalah cara merawat ingatan sekaligus menyalurkan gagasan. “Kalau bicara bisa hilang, kalau ditulis akan tinggal,” begitu ia menegaskan.
Ada satu kalimat yang kerap ia ulang, PR bukan sekadar menjawab pertanyaan wartawan atau mengeluarkan rilis pers. Ia adalah jantung komunikasi yang menyalurkan denyut perusahaan dengan masyarakat.
Kalimat itu barangkali menjadi intisari perjalanan Azizon Nurza. Dari anak Melayu yang tumbuh di tepian Sungai Siak, ia menjelma sebagai figur PR dan CSR yang lintas sektor, lintas daerah, bahkan lintas negara.
Kisahnya adalah pengingat bahwa humas bukan sekadar profesi. Ia adalah pengabdian kepada manusia, budaya, dan lingkungan.
Dan ketika ditanya apa yang masih ia kejar setelah semua pencapaian itu, Azizon hanya tersenyum.
“Saya ingin terus memberi manfaat, sekecil apa pun,” katanya.
Ia membuktikan bahwa humas bukan sekadar profesi, melainkan jembatan yang bernyawa menghubungkan perusahaan dengan manusia, mengikat kepentingan bisnis dengan denyut kehidupan sosial, dan menjahit modernitas dengan tradisi.
Setiap langkahnya, dari ruang rapat perusahaan hingga panggung akademik, dari forum nasional hingga gelanggang internasional, adalah upaya kecil namun konsisten untuk memberi arti, bahwa komunikasi sejati bukanlah sekadar kata, melainkan rasa.
Dan mungkin, itulah warisan paling berharga dari Azizon Nurza. Bukan hanya nama yang tercatat dalam penghargaan, melainkan jejak pengabdian yang diam-diam menyalakan semangat pada generasi muda, bahwa dari tepi sungai yang sunyi pun, seseorang bisa melangkah jauh, selama ia setia pada nilai, ilmu, dan kejujuran.
beberapa penghargaan yang pernah didapatkan Azizon Nurza :
1. Tokoh Penginspirasi tahun 2014 Versi Media Riau One
2. Tanda Kehormatan Adat Dari Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Barat, 2017.
3. Manager CSR Terbaik Dalam Pelaksanan Sustainability Development, ISDA Awards 2018, Jakarta.
4. Warga Kehormatan Aceh Barat dari Forum Mukim Kabupaten Aceh Barat, 2019.
5. Santri Kehormatan dari Dayah Serambi Aceh, 2019.
6. Manager CSR & PR Terbaik, CSR Indonesian Awards, 2019, Bali.
7. The Best Firgure PR & CSR 2020, Seven Media Asia Award, 2020, Bali.
8. Pemimpin Public Relations Berpengaruh 2021 – Jambore PR Indonesia 2021, Bali.
9. Best CSR & ESG Leadership Gold Category, CSR Global & ESG Awards 2022, Hanoi Vietnam.
Profesi insinyur diluluskan tahun 2022 di Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah
Jabatan organisasi profesi nasional :
1. Wakil Ketua Working Group Social & CSR Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI)
2. Wakil Ketua Bidang Bidang Penguatan Pengetahuan Komunitas Maritim Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO)
3. Wakil Sekretaris Pengurus Pusat Masyarakat Adat Nusantara (MATRA)
4. Wakil Ketua Ketua Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) Provinsi Aceh
5. Pengurus Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI) Provinsi Aceh
6. Wakil Ketua Forum Tanggung Jawab Sosial Lingkungan Perusahaan Kab Aceh Barat
7. Ketua Umum Senat Mahasiswa UNRI (1996-1997).
Redaksi Meuligoenews.com












