Yogyakarta | Meuligoenews.com – Bupati Aceh Barat, Tarmizi, melakukan kunjungan kerja ke Daerah Istimewa Yogyakarta untuk meninjau langsung kolam retensi Karangwuni, yang berada di sekitar kawasan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Kunjungan ini bertujuan mempelajari sistem pengendalian banjir yang terbukti efektif dan menjadi referensi bagi perencanaan pembangunan kolam retensi di Aceh Barat.
Dalam kesempatan itu, Bupati Tarmizi didampingi sejumlah pejabat teknis dan menerima arahan langsung dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melihat secara detail kolam retensi serta fasilitas jetty yang terintegrasi dengan sistem pengelolaan air kawasan tersebut.
Bupati Tarmizi menjelaskan, kolam retensi Karangwuni memiliki peran penting dalam menahan limpasan air hujan dan mencegah banjir yang dapat mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara YIA. Fasilitas ini juga dilengkapi sistem pengaturan aliran air, pengendalian sedimen, serta perlindungan struktur pantai.
“Sesuai arahan dari Dirjen, kami diminta untuk melihat langsung kolam retensi Karangwuni di Jogja sekaligus melihat jetty-nya. Ini menjadi contoh yang baik bagaimana infrastruktur pengendali banjir bisa dirancang secara komprehensif dan terintegrasi,” ujar Bupati Tarmizi.
Menurutnya, konsep seperti ini perlu diterapkan di Aceh Barat mengingat daerah tersebut memiliki sejumlah titik rawan banjir yang memerlukan solusi jangka panjang dan berbasis perencanaan teknis yang tepat.
Bupati Tarmizi menekankan, pembangunan kolam retensi bukan hanya proyek konstruksi semata, tetapi juga memerlukan kajian ilmiah mendalam, terutama dalam aspek geologi dan sedimentasi.
“Kita butuh konsultan ahli, karena harus mampu menghitung sedimen, memahami kondisi geologi, dan memprediksi dampak jangka panjangnya. Kalau salah sedikit saja, nanti bisa menyebabkan anggaran ratusan miliar rupiah jadi sia-sia,” tegasnya.
Ia menambahkan, langkah selanjutnya yang akan dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat adalah memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga teknis guna memulai penyusunan Detail Engineering Design (DED).
“Kami akan melobi proses DED dulu dengan Balai Teknik Pantai dan Kementerian PUPR. DED ini menjadi dasar utama sebelum kita masuk ke tahap konstruksi, agar semua perencanaan detail dan mitigasi risikonya benar-benar dihitung secara profesional,” jelasnya.
Bupati Tarmizi juga berharap dukungan dari Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian PUPR, agar Aceh Barat mendapat perhatian dalam pengembangan infrastruktur pengendalian banjir yang berbasis teknologi dan data ilmiah.
“Kami berharap dukungan penuh dari pemerintah pusat, karena persoalan banjir bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan daerah,” ujarnya.
Kepada masyarakat Aceh Barat, ia mengajak semua pihak mendukung setiap proses perencanaan yang sedang dilakukan pemerintah daerah.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah anggaran yang digunakan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Karena itu kami berkomitmen melakukan perencanaan secara matang dan transparan,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Tarmizi menambahkan bahwa proyek ini memiliki potensi besar dalam memberikan manfaat luas bagi masyarakat jika berhasil direalisasikan dengan baik.
“Anggarannya besar sekali, kalau berhasil ini sungguh luar biasa. Kita akan terus berjuang dan kita optimis. Butuh dukungan dan doa dari seluruh masyarakat,” tutupnya penuh harap.
Dengan kunjungan ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berharap dapat menerapkan model kolam retensi yang efektif dan berkelanjutan sebagai solusi pengendalian banjir, sekaligus meningkatkan ketahanan infrastruktur daerah dalam menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem.












